Aksi yang semula berjalan damai tersebut berujung ricuh akibat kekecewaan massa terhadap anjloknya harga jual timah.
Para penambang menilai harga timah saat ini semakin murah dan tidak lagi sebanding dengan biaya operasional, sehingga sangat merugikan perekonomian masyarakat lokal.
Situasi mulai memanas setelah massa merasa tidak mendapat respon. Hingga aksi berlangsung, tidak ada perwakilan dari manajemen PT Timah maupun pemerintah daerah setempat yang menemui massa untuk memberikan penjelasan atau solusi atas tuntutan mereka.
Lantaran tidak mendapat kepastian, emosi massa tersulut. Suasana yang tadinya kondusif berubah mencekam saat warga mulai merobohkan dan merusak fasilitas kantor, merusak plang nama PT Timah, hingga membakar bagian bangunan kantor PT Timah.
Aparat keamanan yang disiagakan di lokasi tampak kesulitan membendung aksi massa. Jumlah personel keamanan yang terbatas tidak sebanding dengan gelombang penambang yang terus berdatangan ke lokasi aksi.
Melalui aksi ini, masyarakat berharap pemerintah daerah bersama pihak PT Timah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi permasalahan harga timah agar kehidupan ekonomi para penambang kecil dapat kembali pulih.
Hingga berita ini diturunkan, redaksi masih berupaya mengonfirmasi pihak manajemen PT Timah dan aparat kepolisian setempat terkait nilai kerugian serta langkah penanganan pasca-kerusuhan tersebut. ***
