Belitung, gerubok.com- Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, seorang warga bernama Budi Setiawan menyuarakan keresahan mendalam terkait kembalinya aktivitas tambang timah di perairan Dusun Ulim, Desa Lassar, Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung.
Meski sebelumnya sempat ditertibkan, aktivitas tambang kini justru semakin masif dengan jumlah mencapai ratusan unit yang berdampak fatal bagi mata pencaharian nelayan lokal.
Aktivitas tambang yang sangat dekat dengan lokasi budidaya menyebabkan ikan kerapu di keramba milik kelompok nelayan mati setiap hari. Ironisnya, ikan-ikan tersebut sudah masuk ukuran siap jual.
Meski sebelumnya sudah pernah ditertibkan dan ada kesepakatan melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP) untuk menghentikan penambangan, kini ratusan unit tambang justru kembali beroperasi dengan jumlah yang lebih besar.
Jika dibiarkan, hal ini berpotensi memicu bentrokan tidak hanya dengan nelayan keramba, tetapi juga nelayan kepiting dan pancing.
Budi Setiawan menyatakan bahwa laporan telah disampaikan kepada pihak-pihak berwenang, namun aktivitas di lapangan tetap berjalan seolah tidak tersentuh hukum. Ia mempertanyakan komitmen para pemangku kebijakan dalam melindungi masyarakat kecil.
"Ikan kerapu kami dikeramba mati tiap hari terkena dampak tambang laut, siapa yang akan tanggung jawab???! Kami sudah lapor sana sini namun mereka tetap jalan terus...," tulis Budi dalam unggahannya.
Dirinya mendesak Pemerintah Provinsi Babel, Pemkab Belitung, serta aparat penegak hukum (Kepolisian dan TNI) untuk segera mengambil tindakan tegas, membersihkan oknum-oknum yang terlibat, dan menghentikan aktivitas yang merusak lingkungan tersebut sebelum konflik sosial semakin meluas. ***
