Laporan tersebut dilayangkan menyusul unggahan akun tersebut di media sosial yang dinilai mencemarkan nama baik perusahaan dan menyebarkan informasi tidak akurat terkait proyek Perumahan Puri Kirana 5.
Unggahan yang dipublikasikan pada pukul 15.00 WIB tersebut berisi sejumlah tudingan, mulai dari masalah pelaksanaan akad kredit, kendala air bersih, hingga fasilitas kelistrikan.
Selain melayangkan tuduhan, akun tersebut juga mengunggah foto Direktur Perumahan Puri Kirana, sejumlah staf, serta KTP salah satu pegawai perusahaan.
Postingan tersebut kini telah menarik perhatian luas dari masyarakat.
Dalam klarifikasinya, Billy Jubilar menegaskan bahwa informasi yang beredar di media sosial tersebut tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya.
Menurutnya konsumen yang menjadi pokok persoalan merupakan pembeli unit rumah di Perumahan Puri Kirana 5 melalui anggota keluarganya yang berdomisili di Belitung.
Sementara itu, pemilik akun Facebook berinisial "A I" diketahui berdomisili di Batam dan saat mengunggah pernyataannya sedang berada di Jakarta.
Lanjutnya, Billy menjelaskan bahwa sejak awal pembangunan, seluruh unit rumah di Perumahan Puri Kirana 5 telah dilengkapi sambungan air dari PDAM sesuai ketentuan pembangunan perumahan.
Dirinya mengakui pada tahap awal distribusi air PDAM belum berjalan stabil. Namun, menurutnya, kondisi tersebut kini telah mengalami perbaikan.
"Pada awalnya memang distribusi air PDAM belum stabil seperti sekarang. Namun saat ini suplai air sudah jauh lebih baik dan dapat mengalir lebih dari 12 jam per hari, sehingga sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan warga," ujar Billy.
Ia menambahkan, apabila terjadi gangguan distribusi air, penanganannya menjadi kewenangan pemerintah daerah bersama PDAM sebagai penyedia layanan air bersih.
Sebagai bentuk tanggung jawab kepada penghuni, Billy mengatakan pihak pengembang menawarkan solusi alternatif berupa pembangunan sumur bor.
Awalnya, kata dia, konsumen hanya diminta berkontribusi sebesar Rp1 juta, sedangkan sisanya ditanggung pihak pengembang.
Namun setelah konsumen menyampaikan keberatan, perusahaan memutuskan menanggung seluruh biaya tersebut.
"Seluruh biaya pembuatan sumur bor akhirnya kami gratiskan," katanya.
Billy menjelaskan proses pengeboran di lokasi rumah tersebut hanya mampu mencapai kedalaman sekitar 7,5 meter karena terkendala lapisan tanah berbatu.
Menurutnya, kondisi geologi di kawasan perumahan tidak seragam sehingga kedalaman sumber air di setiap titik dapat berbeda.
Ia juga menyebut setelah pekerjaan selesai, konsumen meminta tambahan kompensasi berupa penyediaan mesin air karena kedalaman sumur tidak mencapai target 10 meter.
"Padahal yang bersangkutan sendiri belum pernah melihat langsung proses maupun hasil pengeboran sumur tersebut," ujarnya.
Billy menyayangkan keluhan tersebut terlebih dahulu dipublikasikan melalui media sosial tanpa adanya komunikasi langsung dengan pihak pengembang.
Menurutnya, Puri Kirana selama ini membuka ruang bagi seluruh konsumen untuk menyampaikan kritik maupun keluhan agar dapat diselesaikan melalui musyawarah.
"Kami selalu berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh konsumen. Setiap keluhan seharusnya dapat diselesaikan melalui komunikasi langsung agar tidak terjadi kesalahpahaman di ruang publik," tegasnya.
Ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui dialog sehingga hubungan antara pengembang dan konsumen tetap terjaga.
Hingga saat ini, gerubok.com masih berupaya menghubungi pemilik akun Facebook berinisial "A I" guna memberikan hak jawab dan memastikan pemberitaan tetap berimbang sesuai kaidah jurnalistik. ***
Sumber (BilitonNews.co).
