Dikenal karena kelincahannya di atas rumput hijau, pria ini ternyata memiliki cara yang unik untuk mengisi waktu luangnya, terutama di tengah suasana khidmat bulan suci Ramadan.
Bagi Isnan, sepak bola adalah gairah, namun memancing adalah ketenangan. Jika biasanya ia berjibaku merebut bola, kini di sela-sela aktivitas ibadah puasa, Isnan lebih banyak terlihat di tepian sungai dengan joran di tangan.
Aktivitas memancing ini menjadi ritual "ngabuburit" favoritnya. Menurut Isnan, memancing bukan sekadar soal mendapatkan ikan, melainkan melatih kesabaran. Sebuah nilai yang juga ia terapkan saat mengatur strategi di lapangan bola.
"Kalau di lapangan kita harus cepat dan agresif. Tapi kalau di pinggir sungai, kita belajar diam dan menunggu momentum. Rasanya pas sekali untuk menunggu waktu berbuka puasa," ujar Isnan.
Meski sedang berpuasa, Isnan tetap menjaga kondisi fisiknya agar tetap prima untuk laga-laga tarkam mendatang.
Baginya, memancing di sungai yang asri membantunya melepas penat (refreshing) tanpa harus menguras banyak energi fisik di siang hari yang terik.
Dengan kombinasi antara bakat di lapangan hijau dan ketekunan di pinggir sungai, Isnan membuktikan bahwa seorang atlet tarkam pun memiliki sisi kehidupan yang sederhana dan inspiratif. ***
